Monday, December 26, 2016
POSPEDA 2016 JATENG
pospeda 2016 jateng
KUDUS - Kontingen Kudus patut berbangga karena berhasil meraih juara 2 Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren (Pospeda) 2016 se-Jawa Tengah di Kudus kemarin.
Dalam ajang yang diikuti siswa tingkat SMA/MA, SMP/MTs itu Kudus berhasil menyabet 4 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Kepala Bidang Olahraga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus Harjuna Widada mengatakan, beberapa cabang olahraga (cabor) yang dilombakan di antaranya, yaitu atletik, pencak silat, bulu tangkis, tenis meja, dan bola voli.
Para peserta yang mendapatkan piala itu, di antaranya yaitu M Nasrullah Nur Syakbani dan Lia Khofifah di cabang atletik lari 5.000 meter. Keduanya santri Pondok Pesantren Daarusy Syifa Al Islami (siswa MAN 1 Kudus). Amar Abdullah Dani Arni Raihan dari Ponpes Muhammadiyah (siswa SMA Muhammadiyah di cabang pencak silat, Bagus Trengginas dari Ponpes Daarusy Syifa Al Islami (siswa MAN 2 Kudus) di cabang bulu tangkis.
Keempat santri itu berhasil meraih medali emas. Santri yang meraih medali perak, yakni Dwi Abdul Aziz dari Daarusy Syifa Al Islami (siswa SMK Wisudha Karya) di cabang atletik lari 100 meter. Sementara untuk perunggu direbut Ari Wibowo dari Ponpes Raden Umar Said Sunan Muria (siwa SMA Raden Umar Said Dawe) di cabang pencak silat, Gesang Satria Kartika Putra dari Ponpes Asy Syahiiyah Prambatan Kidul (siswa di MTs 1 Kudus) di cabang tenis meja putra, serta Farah Amani Fatihah dari Ponpes Anfaul Ulum Dawe (siswa MTs Ibtidaul Falah) di cabang tenis meja.
Harjuna mengatakan, meski mereka dari latar belakang pondok pesantren dan kesehariannya dihabiskan di sekolahan dan pesantren yang banyak diisi kegiatan keagamaan, mereka menunjukkan prestasi yang luar biasa. Terbukti dari mereka sebelumnya juga ikut dalam Popda Jateng meski tidak semuanya mampu meraih prestasi sebaik di Pospeda.
“Ini menunjukkan santri punya multitalenta, selain mereka lebih pintar ilmu agama, juga bisa berprestasi di bidang-bidang lain, termasuk olahraga,” paparnya. Menurut dia, ponpes memiliki peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan perjuangan kemerdekaan, melalui pendidikan berbasis agama hingga menjadi lembaga pendidikan yang modern dan mengikuti perkembangan zaman.
Pospeda itu sebenarnya dimaksudkan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah para santri dan juga menjadi dasar evaluasi sejauh mana santri mampu berprestasi khususnya pada cabang olahraga dan seni. Sementara itu, Popeda di bidang seni telah dilaksanakan Juni lalu yang melombakan beberapa cabang kesenian, di antaranya hadroh, pidato dalam bahasa Arab, Inggris, Indonesia, kaligrafi, stand-up comedy, seni kriya, cipta puisi, dan senam santri.
Para pemenang nantinya berkesempatan tampil di tingkat nasional yang diberi nama Pekan Olahraga dan Seni Nasional (Pospenas). M Nasrullah Nur Syakbani yang mendapat piala emas mengaku bangga bisa mewakili sekolah dan ponpesnya untuk tampil dalam Pospeda.
Untuk membagi waktu latihan menjadi atlet dan belajar pelajaran di sekolah serta pondok pesantren, dia benar-benar harus pintar membagi waktu. “Habis sekolah, harus langsung tidur sebentar untuk istirahat, jam tiga sore harus latihan fisik sampai sore dengan pelatih saya dan teman-teman, malamnya bakda magrib harus ngaji kitab dan bakda isyak ada kegiatan baca Alquran dengan guru dan kiai di pondok. Setelah itu, kerjakan PR sekolahan jika ada,” kata Nasrullah.
Saturday, November 5, 2016
PERSIAPAN POPWIL ANNAS RAIS TERPAKSA TIDAK SEKOLAH
KUDUS – Dua atlet silat Kudus sibuk melakukan
persiapan diri dalam menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil)
di Provinsi Bali, 24 Agustus 2014. Akibatnya, mereka terpaksa tidak
sekolah.
Di antara persiapan yang dilakukan adalah menjalanii pemusatan
latihan atau training camp (TC) kedua selama sebulan. Yaitu mulai 31
Juli sampai akhir bulan Agustus. Dua atlet itu adalah Annas Rais Arni
Royhan dan Abbas.
Diketahui, TC kedua merupakan rentetan TC pertama. TC kedua dilakukan di Jatidiri Semarang. Sebagaimana diketahui, TC pertama dilakukan pada 23-25 Juli di Kota Semarang. TC ini mempunyai maksud agar atlet yang diturunkan bisa tampil bagus di Bali.
Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kudus Ahmad Fuad mengatakan, para atlet memang harus meninggalkan bangku sekolah sementara. Karena mereka harus menyiapkan diri menghadapi Popwil. ”Tapi mereka nanti akan mendapatkan pelajaran susulan,” katanya.
TC lanjutan telah dilakukan usai Lebaran kemarin. Hal tersebut diketahuinya saat dia menanyakannya kepada para atlet, beberapa hari lalu. Selama di Semarang, atlet akan mendapatkan latihan dari pembimbing Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jateng. Keduanya akan menjadi wakil Jawa Tengah agar bisa berlaga di Bali. Lantaran mewakili provinsi, maka pihak provinsi tidak ingin atlet yang turun bermain biasa saja. Sehingga, atlet ditempa dengan latihan yang bagus.
Menurut dia, selama TC di Semarang, ada beberapa program yang akan dijalani atlet yakni fokus pada kestabilan berat badan atlet, memperbaiki fisik, tehnik, dan mental. Bahkan tidak menutup kemungkinan adanya upaya perbaikan gizi atlet dengan pemberian suplemen secara intensif.
Karena ada salah satu atlet yang sebelumnya memiliki berat badan kurang. Yaitu Annas yang memiliki bobot sekitar 68 Kilogram (Kg). Padahal untuk kelas yang akan diikuti, berat badan atlet setidaknya harus 71 Kg. ”Sekarang, berat badan Annas sudah 72 Kg,” katanya.
Faktor berat badan menjadi bahan pertimbangan yang tidak bisa ditoleransi. Sedangkan faktor fisik lain seperti tinggi badan, dan lainnya tidak menjadi masalah. Keikutsertaan Kudus dalam seleksi atlet untuk Popwil tak lepas dari prestasi yang ditorehkan, beberapa waktu lalu. Pesilat Kudus berhasil menang di Popda Jawa Tengah. Hal itulah yang membawa pesilat Kudus bisa ambil bagian di Popwil.
Sebelumnya, pengurus IPSI Kudus rutin mematangkan persiapan dua atlet silatnya. Sebab, mereka tidak ingin atletnya tidak tampil bagus selama di Bali.
Di antara persiapan yang dilakukan adalah menjalanii pemusatan
latihan atau training camp (TC) kedua selama sebulan. Yaitu mulai 31
Juli sampai akhir bulan Agustus. Dua atlet itu adalah Annas Rais Arni
Royhan dan Abbas.Diketahui, TC kedua merupakan rentetan TC pertama. TC kedua dilakukan di Jatidiri Semarang. Sebagaimana diketahui, TC pertama dilakukan pada 23-25 Juli di Kota Semarang. TC ini mempunyai maksud agar atlet yang diturunkan bisa tampil bagus di Bali.
Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kudus Ahmad Fuad mengatakan, para atlet memang harus meninggalkan bangku sekolah sementara. Karena mereka harus menyiapkan diri menghadapi Popwil. ”Tapi mereka nanti akan mendapatkan pelajaran susulan,” katanya.
TC lanjutan telah dilakukan usai Lebaran kemarin. Hal tersebut diketahuinya saat dia menanyakannya kepada para atlet, beberapa hari lalu. Selama di Semarang, atlet akan mendapatkan latihan dari pembimbing Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jateng. Keduanya akan menjadi wakil Jawa Tengah agar bisa berlaga di Bali. Lantaran mewakili provinsi, maka pihak provinsi tidak ingin atlet yang turun bermain biasa saja. Sehingga, atlet ditempa dengan latihan yang bagus.
Menurut dia, selama TC di Semarang, ada beberapa program yang akan dijalani atlet yakni fokus pada kestabilan berat badan atlet, memperbaiki fisik, tehnik, dan mental. Bahkan tidak menutup kemungkinan adanya upaya perbaikan gizi atlet dengan pemberian suplemen secara intensif.
Karena ada salah satu atlet yang sebelumnya memiliki berat badan kurang. Yaitu Annas yang memiliki bobot sekitar 68 Kilogram (Kg). Padahal untuk kelas yang akan diikuti, berat badan atlet setidaknya harus 71 Kg. ”Sekarang, berat badan Annas sudah 72 Kg,” katanya.
Faktor berat badan menjadi bahan pertimbangan yang tidak bisa ditoleransi. Sedangkan faktor fisik lain seperti tinggi badan, dan lainnya tidak menjadi masalah. Keikutsertaan Kudus dalam seleksi atlet untuk Popwil tak lepas dari prestasi yang ditorehkan, beberapa waktu lalu. Pesilat Kudus berhasil menang di Popda Jawa Tengah. Hal itulah yang membawa pesilat Kudus bisa ambil bagian di Popwil.
Sebelumnya, pengurus IPSI Kudus rutin mematangkan persiapan dua atlet silatnya. Sebab, mereka tidak ingin atletnya tidak tampil bagus selama di Bali.
POSPEDA TINGKAT JAWA TENGAH KUDUS RAIH JUARA UMUM 2
KUDUS - Kontingen Kudus patut berbangga karena berhasil meraih juara 2 Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren (Pospeda) 2016 se-Jawa Tengah di Kudus kemarin.
Para peserta yang mendapatkan piala itu, di antaranya yaitu M Nasrullah Nur Syakbani dan Lia Khofifah di cabang atletik lari 5.000 meter. Keduanya santri Pondok Pesantren Daarusy Syifa Al Islami (siswa MAN 1 Kudus). Amar Abdullah Dani Arni Raihan dari Ponpes Muhammadiyah (siswa SMA Muhammadiyah di cabang pencak silat, Bagus Trengginas dari Ponpes Daarusy Syifa Al Islami (siswa MAN 2 Kudus) di cabang bulu tangkis.
Keempat santri itu berhasil meraih medali emas. Santri yang meraih medali perak, yakni Dwi Abdul Aziz dari Daarusy Syifa Al Islami (siswa SMK Wisudha Karya) di cabang atletik lari 100 meter. Sementara untuk perunggu direbut Ari Wibowo dari Ponpes Raden Umar Said Sunan Muria (siwa SMA Raden Umar Said Dawe) di cabang pencak silat, Gesang Satria Kartika Putra dari Ponpes Asy Syahiiyah Prambatan Kidul (siswa di MTs 1 Kudus) di cabang tenis meja putra, serta Farah Amani Fatihah dari Ponpes Anfaul Ulum Dawe (siswa MTs Ibtidaul Falah) di cabang tenis meja.
Harjuna mengatakan, meski mereka dari latar belakang pondok pesantren dan kesehariannya dihabiskan di sekolahan dan pesantren yang banyak diisi kegiatan keagamaan, mereka menunjukkan prestasi yang luar biasa. Terbukti dari mereka sebelumnya juga ikut dalam Popda Jateng meski tidak semuanya mampu meraih prestasi sebaik di Pospeda.
“Ini menunjukkan santri punya multitalenta, selain mereka lebih pintar ilmu agama, juga bisa berprestasi di bidang-bidang lain, termasuk olahraga,” paparnya. Menurut dia, ponpes memiliki peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan perjuangan kemerdekaan, melalui pendidikan berbasis agama hingga menjadi lembaga pendidikan yang modern dan mengikuti perkembangan zaman.
Pospeda itu sebenarnya dimaksudkan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah para santri dan juga menjadi dasar evaluasi sejauh mana santri mampu berprestasi khususnya pada cabang olahraga dan seni. Sementara itu, Popeda di bidang seni telah dilaksanakan Juni lalu yang melombakan beberapa cabang kesenian, di antaranya hadroh, pidato dalam bahasa Arab, Inggris, Indonesia, kaligrafi, stand-up comedy, seni kriya, cipta puisi, dan senam santri.
Para pemenang nantinya berkesempatan tampil di tingkat nasional yang diberi nama Pekan Olahraga dan Seni Nasional (Pospenas). M Nasrullah Nur Syakbani yang mendapat piala emas mengaku bangga bisa mewakili sekolah dan ponpesnya untuk tampil dalam Pospeda.
Untuk membagi waktu latihan menjadi atlet dan belajar pelajaran di sekolah serta pondok pesantren, dia benar-benar harus pintar membagi waktu. “Habis sekolah, harus langsung tidur sebentar untuk istirahat, jam tiga sore harus latihan fisik sampai sore dengan pelatih saya dan teman-teman, malamnya bakda magrib harus ngaji kitab dan bakda isyak ada kegiatan baca Alquran dengan guru dan kiai di pondok. Setelah itu, kerjakan PR sekolahan jika ada,” kata Nasrullah
Subscribe to:
Comments (Atom)














