Rony Syaifullah: Pencak Silat Milik Kita

Gemuruh suara penonton terdengar ketika kami akan memasuki hall
Padepokan Pencak Silat, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Hari itu
adalah hari kedua seleksi tim nasional pencak silat
untuk menghadapi The 3rd Solidarity Games 2013, Riau dan 27th
SEA Games 2013, Myanmar. Kami mengambil duduk di tribun, di atas deretan
pemimpin pertandingan, untuk menyaksikan dan menikmati
pertarungan hari itu. Sampai akhirnya keasyikan kami berakhir
karena orang yang ingin kami temui berdiri di depan kami.
Sambil menyaksikan aksi dari para calon anggota timnas pencak silat berlaga di area pertandingan, kami berbincang ringan. Sesekali sosok di sebelah kami reflek menggerakkan badannya ketika menyaksikan pertarungan. Seolah-olah ia yang sedang bertarung. Gerakan seperti menangkis, memukul, dan juga mengangkat kaki, diperagakannya. “Wah, terlalu lama mereka. Seharusnya langsung serang saja!” ucapnya bersemangat.
Ikut andil juara umum
Ia adalah mantan atlet pencak silat Indonesia, Rony Syaifullah. Mungkin Anda belum terlalu mengenal dirinya, tapi mantan atlet pencak silat kategori tanding Kelas G (75-80kg) ini belum ada penerus ketangguhannya. Sampai saat ini, kelas G itu dikuasai oleh para pesilat Vietnam. “Sejak awal kami memang ditargetkan untuk menjadi juara umum,” terang Rony membuka obrolan bersama kami di sela-sala pertandingan Seleknas. Ucapan itu merujuk pada Sea Games 2011 di Jakarta lalu. Target itu sejalan dengan tekad Rony yang ingin membuktikan bahwa sebagai olahraga asli Indonesia, Pencak Silat mampu meraih hasil maksimal. “Jadi ketika event internasional diadakan di Indonesia, Indonesia harus membuktikan bahwa ini (pencak silat) milik kita dan kita harus jadi yang terbaik,” tambah pelatih kelahiran 26 Agustus 1976 ini.
Tapi bukan berarti hasil itu sudah 100% tercapai, Rony mengakui pencapaiannya itu masih satu tingkat di bawah maksimal. “Prediksi saya pribadi waktu itu menang 10 emas. Namun kemarin ada beberapa hal di luar jangkauan pikiran kita. Ada hal non teknis yang terjadi di sana,” akunya. Penjelasannya itu berkaitan dengan gagalnya salah satu atlet putra ketika berhadapan dengan atlet Malaysia di final. “Padahal di kejuaraan dunia, atlet itu menang dari atlet yang sama, tapi ketika di Sea Games, keadaannya justru terbalik,” jelas Ronny.
Porsi terukur dan berbeda
Bekal Rony untuk melatih adalah pengalamannya sebagai atlet selama 13 tahun (1996-2007), ditambah dengan pengetahuan formal yang digalinya mulai dari program S1 sampai S3. Bekal itu merupakan pijakan Rony untuk meramu konsep dan program latihan tepat bagi anak didiknya. “Pelatih itu harus betul-betul melihat karakteristik individu per individu. Ketika menjadi atlet saya kan mengenal diri saya dan kebutuhan saya seperti apa,” katanya. Beban dan porsi latihan dari masing-masing atlet pun mendapat perhatian khusus dari Rony. “Semua berbeda, conditioning dan periodesasi latihan, tergantung kebutuhan masing-masing. Semua itu saya lengkapi dari apa yang saya peroleh di bangku kuliah,” kata Rony lagi.
Bangkit dari kegagalan
Ada keberhasilan tentu ada juga kegagalan. Begitupun yang dialami Rony, baik sebagai atlet maupun pelatih. Sebagai pelatih, intuisi terhadap kegagalan menjadi satu hal yang harus dimiliki. “Itu adalah hal yang tidak kita harapkan. Tapi yang jelas, kegagalan dalam perjalanan tugas atau misi bisa terlihat sejak awal,” jelasnya. “Ada masalah sedikit pun atau hal negatif sedikit pun harus segera dicari solusinya.”
Kisah kegagalan ketika masih bertarung sebagai atlet nasional adalah yang paling diingatnya. Semua itu berawal dari kegagalannya di Sea Games 2001 dan 2003. Sejak itu julukan 'jago kandang'. Disematkan pada dirinya. Rony dianggap hanya bisa meraih prestasi internasional jika event-nya diadakan di Indonesia. “Waktu itu saya benar-benar terpuruk dan tidak mau menjadi atlet lagi,” kenang Rony.
Kembali ke rumah, waktu pun berjalan lambat baginya. Merenung menjadi kegiatan rutinnya. “Saya berpikir, kegagalan di Sea Games itu memalukan untuk bangsa dan diri saya sendiri. Saya harus membayar itu, saya harus membayar lunas hutang saya kepada bangsa. Saya punya tekad harus membayarnya di Sea Games berikutnya,” ujar Rony.
Waktu pembuktian pun tiba. Sea Games 2005 di Filipina menjadi ajang kebangkitan Rony. Turun di Kelas G, ia 'menghabisi' pesilat Vietnam dan menjadi salah satu dari dua peraih emas pencak silat kategori tanding di Sea Games itu. Hutang pun lunas! “Saya benar-benar menangis waktu upacara pengibaran bendera Merah-Putih, di tengah keterpurukan prestasi kita (pencak silat) yang menurun – kala itu. Saya juga berhasil menjawab tudingan orang yang mengatakan saya hanya berani di kandang,” kenangnya berlanjut.
Kini setelah tidak lagi mengemban tugas sebagai bagian dari pelatih Timnas, selain menyelesaikan studi S3-nya, Rony kembali ke daerah asalnya, Jawa Tengah untuk membina bibit-bibit baru pesilat. Meski menurutnya keinginan untuk melatih timnas adalah impian semua pelatih nasional tapi ia belum berkeinginan untuk kembali memegang tanggungjawab itu. “Melatih timnas itu menjadi sebuah kebanggaan. Tapi saya akan membuktikan dengan memaksimalkan hasil di daerah dulu, ketika hasilnya positif nanti orang akan melihat sendiri,” jelasnya.
Catatan Prestasi Rony
Atlet:
Juara Dunia tahun 1997 & 2000
Emas Sea Games tahun 1997, 2005, dan 2007
Juara PON tahun 2000, 2004, dan 2008
Pelatih:
Juara umum Kejuaraan Dunia tahun 2010
Juara umum Sea Games 2011
Indonesia Juara Umum Pencak Silat
Kejuaraan Dunia: 1992, 1994, 1997, 2000, 2010, 2012
Sea Games: 1987, 1993, 1995, 1997, 2001, 2007, 2011
source: http://www.fitnessformen.co.id/article/2/2014/745-Rony-Syaifullah-Pencak-Silat-Milik-Kita
Sambil menyaksikan aksi dari para calon anggota timnas pencak silat berlaga di area pertandingan, kami berbincang ringan. Sesekali sosok di sebelah kami reflek menggerakkan badannya ketika menyaksikan pertarungan. Seolah-olah ia yang sedang bertarung. Gerakan seperti menangkis, memukul, dan juga mengangkat kaki, diperagakannya. “Wah, terlalu lama mereka. Seharusnya langsung serang saja!” ucapnya bersemangat.
Ikut andil juara umum
Ia adalah mantan atlet pencak silat Indonesia, Rony Syaifullah. Mungkin Anda belum terlalu mengenal dirinya, tapi mantan atlet pencak silat kategori tanding Kelas G (75-80kg) ini belum ada penerus ketangguhannya. Sampai saat ini, kelas G itu dikuasai oleh para pesilat Vietnam. “Sejak awal kami memang ditargetkan untuk menjadi juara umum,” terang Rony membuka obrolan bersama kami di sela-sala pertandingan Seleknas. Ucapan itu merujuk pada Sea Games 2011 di Jakarta lalu. Target itu sejalan dengan tekad Rony yang ingin membuktikan bahwa sebagai olahraga asli Indonesia, Pencak Silat mampu meraih hasil maksimal. “Jadi ketika event internasional diadakan di Indonesia, Indonesia harus membuktikan bahwa ini (pencak silat) milik kita dan kita harus jadi yang terbaik,” tambah pelatih kelahiran 26 Agustus 1976 ini.
Tapi bukan berarti hasil itu sudah 100% tercapai, Rony mengakui pencapaiannya itu masih satu tingkat di bawah maksimal. “Prediksi saya pribadi waktu itu menang 10 emas. Namun kemarin ada beberapa hal di luar jangkauan pikiran kita. Ada hal non teknis yang terjadi di sana,” akunya. Penjelasannya itu berkaitan dengan gagalnya salah satu atlet putra ketika berhadapan dengan atlet Malaysia di final. “Padahal di kejuaraan dunia, atlet itu menang dari atlet yang sama, tapi ketika di Sea Games, keadaannya justru terbalik,” jelas Ronny.
Porsi terukur dan berbeda
Bekal Rony untuk melatih adalah pengalamannya sebagai atlet selama 13 tahun (1996-2007), ditambah dengan pengetahuan formal yang digalinya mulai dari program S1 sampai S3. Bekal itu merupakan pijakan Rony untuk meramu konsep dan program latihan tepat bagi anak didiknya. “Pelatih itu harus betul-betul melihat karakteristik individu per individu. Ketika menjadi atlet saya kan mengenal diri saya dan kebutuhan saya seperti apa,” katanya. Beban dan porsi latihan dari masing-masing atlet pun mendapat perhatian khusus dari Rony. “Semua berbeda, conditioning dan periodesasi latihan, tergantung kebutuhan masing-masing. Semua itu saya lengkapi dari apa yang saya peroleh di bangku kuliah,” kata Rony lagi.
Bangkit dari kegagalan
Ada keberhasilan tentu ada juga kegagalan. Begitupun yang dialami Rony, baik sebagai atlet maupun pelatih. Sebagai pelatih, intuisi terhadap kegagalan menjadi satu hal yang harus dimiliki. “Itu adalah hal yang tidak kita harapkan. Tapi yang jelas, kegagalan dalam perjalanan tugas atau misi bisa terlihat sejak awal,” jelasnya. “Ada masalah sedikit pun atau hal negatif sedikit pun harus segera dicari solusinya.”
Kisah kegagalan ketika masih bertarung sebagai atlet nasional adalah yang paling diingatnya. Semua itu berawal dari kegagalannya di Sea Games 2001 dan 2003. Sejak itu julukan 'jago kandang'. Disematkan pada dirinya. Rony dianggap hanya bisa meraih prestasi internasional jika event-nya diadakan di Indonesia. “Waktu itu saya benar-benar terpuruk dan tidak mau menjadi atlet lagi,” kenang Rony.
Kembali ke rumah, waktu pun berjalan lambat baginya. Merenung menjadi kegiatan rutinnya. “Saya berpikir, kegagalan di Sea Games itu memalukan untuk bangsa dan diri saya sendiri. Saya harus membayar itu, saya harus membayar lunas hutang saya kepada bangsa. Saya punya tekad harus membayarnya di Sea Games berikutnya,” ujar Rony.
Waktu pembuktian pun tiba. Sea Games 2005 di Filipina menjadi ajang kebangkitan Rony. Turun di Kelas G, ia 'menghabisi' pesilat Vietnam dan menjadi salah satu dari dua peraih emas pencak silat kategori tanding di Sea Games itu. Hutang pun lunas! “Saya benar-benar menangis waktu upacara pengibaran bendera Merah-Putih, di tengah keterpurukan prestasi kita (pencak silat) yang menurun – kala itu. Saya juga berhasil menjawab tudingan orang yang mengatakan saya hanya berani di kandang,” kenangnya berlanjut.
Kini setelah tidak lagi mengemban tugas sebagai bagian dari pelatih Timnas, selain menyelesaikan studi S3-nya, Rony kembali ke daerah asalnya, Jawa Tengah untuk membina bibit-bibit baru pesilat. Meski menurutnya keinginan untuk melatih timnas adalah impian semua pelatih nasional tapi ia belum berkeinginan untuk kembali memegang tanggungjawab itu. “Melatih timnas itu menjadi sebuah kebanggaan. Tapi saya akan membuktikan dengan memaksimalkan hasil di daerah dulu, ketika hasilnya positif nanti orang akan melihat sendiri,” jelasnya.
Catatan Prestasi Rony
Atlet:
Juara Dunia tahun 1997 & 2000
Emas Sea Games tahun 1997, 2005, dan 2007
Juara PON tahun 2000, 2004, dan 2008
Pelatih:
Juara umum Kejuaraan Dunia tahun 2010
Juara umum Sea Games 2011
Indonesia Juara Umum Pencak Silat
Kejuaraan Dunia: 1992, 1994, 1997, 2000, 2010, 2012
Sea Games: 1987, 1993, 1995, 1997, 2001, 2007, 2011
source: http://www.fitnessformen.co.id/article/2/2014/745-Rony-Syaifullah-Pencak-Silat-Milik-Kita
Team Thailand
Sea Games 2013
more sea games video > news archive
Nederland
BELT EXAMS
On wednesday 18 and saturday 21 december a selection of Bongkot Harimau practitioners have
participated in an examination. On 18 december 5 pre-juniors, 6 juniors and 2 seniors took part in a belt graduation exam. On saturday the 21st: 4 senior members have taken part in a strenuous test for a higher graduation (brown and black belt). All graduates congratulations.
On wednesday 18 and saturday 21 december a selection of Bongkot Harimau practitioners have
participated in an examination. On 18 december 5 pre-juniors, 6 juniors and 2 seniors took part in a belt graduation exam. On saturday the 21st: 4 senior members have taken part in a strenuous test for a higher graduation (brown and black belt). All graduates congratulations.
3 Generations
One style, one family
Lucien, Ruben, Raoul, Eddy, Calvin and Jaap Clements; Bongkot Harimau.
One style, one family
Lucien, Ruben, Raoul, Eddy, Calvin and Jaap Clements; Bongkot Harimau.
LESLEY WEESSIES BEST FEMALE FIGHTER
At the 18th Belgium Open Pencak Silat Championships Bongkot’s Lesley Weessies was awarded with the trophy for the Best Female Fighter. A great compliment for Weessies impressive performance in the finals against Vietnam. More gold for the Bongkot team came from youth players Cedric de Thomis and Kirsten Parengkuan.
Besides the three gold medals, Bongkot’s junior squad won two silver; one for Luna de Thomis and one for Nick Huesken in his first international appearance. Also Bongkot’s senior squad managed to win two silver medal. One by Emil Nuninga (class J) in a strong performance against worldchampion Abdul Azrullah from Malaysia. And one by Jordy Weessies (class H) who unluckily had to end his participation due to an injury, just before the finals against Indonesia.
The 18th Belgium Open Championship has once again proven to be a great international silat event thanks to the experienced organization, jury and the participation of sublime silat fighters from world class teams like Indonesia, Malaysia and Vietnam.
Facts
At the 18th Belgium Open Pencak Silat Championships Bongkot’s Lesley Weessies was awarded with the trophy for the Best Female Fighter. A great compliment for Weessies impressive performance in the finals against Vietnam. More gold for the Bongkot team came from youth players Cedric de Thomis and Kirsten Parengkuan.
Besides the three gold medals, Bongkot’s junior squad won two silver; one for Luna de Thomis and one for Nick Huesken in his first international appearance. Also Bongkot’s senior squad managed to win two silver medal. One by Emil Nuninga (class J) in a strong performance against worldchampion Abdul Azrullah from Malaysia. And one by Jordy Weessies (class H) who unluckily had to end his participation due to an injury, just before the finals against Indonesia.
The 18th Belgium Open Championship has once again proven to be a great international silat event thanks to the experienced organization, jury and the participation of sublime silat fighters from world class teams like Indonesia, Malaysia and Vietnam.
Facts
- Indonesia has won the overall trophy for Best Team Performance
- The Best Male Fighter trophy was awarded to Mohd Aljufferi from Malaysia
- More than 120 players from 11 countries took part in this edition of the Belgium Open, under which countries like United Kingdom, Germany, France, Surinam and host country Belgium.
- More info: http://www.silatbelgium.be
- Team Bongkot Harimau is sponsored by www.security.nl
BELGIUM OPEN 2013





WORLD CHAMPIONSHIP THAILAND 2012 SENI
WORLDCHAMPIONSHIP THAILAND 2012 TANDING
DUTCH WIN WORLD SILVER AND BRONZE
The Dutch Pencak Silat team has managed to grab two silver and one bronze medal in the 15th World Pencak Silat Championship, held this november in Chiang Rai-Thailand.
The three medal winners who represented the Dutch national team led by national team coach Johann Davids are Rion Rijker (bronze, class 85-90kg), Roy Schut (silver, class 90-95kg) and Lesley Weessies (silver, class 70-75kg). Jordy Weessies and Martijn Houwerzijl both lost their matches in the semis against Vietnam. All are members of Bongkot Harimau, trained and managed by Raoul de Thomis.
Two other Dutch team members, Samantha van Roosenbeek (55-60kg, member of Satria Muda) and Jeroen Oostema (70-75kg, member of Perisai Diri) made a good first impression on the world stage, despite losing their matches against Brunei and Singapore.
Pencak Silat team Bongkot Harimau is supported by the
international internet security company Security.nl.
The Dutch Pencak Silat team has managed to grab two silver and one bronze medal in the 15th World Pencak Silat Championship, held this november in Chiang Rai-Thailand.
The three medal winners who represented the Dutch national team led by national team coach Johann Davids are Rion Rijker (bronze, class 85-90kg), Roy Schut (silver, class 90-95kg) and Lesley Weessies (silver, class 70-75kg). Jordy Weessies and Martijn Houwerzijl both lost their matches in the semis against Vietnam. All are members of Bongkot Harimau, trained and managed by Raoul de Thomis.
Two other Dutch team members, Samantha van Roosenbeek (55-60kg, member of Satria Muda) and Jeroen Oostema (70-75kg, member of Perisai Diri) made a good first impression on the world stage, despite losing their matches against Brunei and Singapore.
Pencak Silat team Bongkot Harimau is supported by the
international internet security company Security.nl.
BELGIUM OPEN 2012
VIDEO
FLASHBACK

July 2006, Surinam. Bongkot trainer Johann Davids providing Pencak Silat training for a group of Surinam
pesilats at the central training-location of the Sana Budaya-cultural foundation in Paramaribo.
TRIAL BONGKOT - BAKTI NEGARA BALI
December 2011 - Three pesilats of
Bongkot Harimau have competed in a trial with team Bali players from
Bhakti Negara in Denpasar.
Pencak Silat is Indonesia's national
art of selfdefence. Bongkot means: root, the beginning of
everything. This style is created by the late Henri de
Thomis. It bundles practical values, a selection silat styles and
Kuntao to a modern art of selfdefence. Bongkot is officially
acknowledged by IPSI and Persilat.
Bongkot is powered by https://www.certifiedsecure.com/


0 comments:
Post a Comment